IKlan

cerita mistis danau kelimutu

Tempat Rekreasi] misteri danau kelimutu(3 warna)
+Rinal Purba
Daya tarik utamanya terletak pada tiga danaunya yang berbeda dan kerap berubah warna, oleh karena itu disebut Danau Tiga Warna. Masing-masing danau memiliki kisah tersendiri.

Bertandang ke Nusa Tenggara Timur (NTT), kurang komplit kalau belum ke Kelimutu. Taman Nasional seluas lebih kurang 5000 hektar ini berada di Kabupaten Ende yang mencakup tiga kecamatan yakni Woloworu, Detusuko, dan Ndona. Di dalam kawasan konservasi ini bersemayan Danau Tiga warna yang disebut juga Danau Kelimutu karena terletak di kawah puncak Gunung Kelimutu yang ketinggiannya 1.690 meter di atas permukaan laut (dpl).

Dari hasil penelitian, penyebab perubahan warna di Danau Kelimutu dikarenakan berbagai faktor. Peneliti dari Tim Vulkanologi Bandung misalnya mengatakan perubahan ketiga Danau Kelimutu disebabkan oleh bebatuan yang mengeluarkan zat kimia di dasar danau. Zat kimia yang lebih dominan mempengaruhi warna airnya.

Peneliti lain menyebutkan perubahan itu terjadi akibat adanya ganggang atau sejenis lumut yang tumbuh subur di dasar danau, di samping aktivitas kawah dan kandungan mineral airnya.

Selain keunikan perubahan warna airnya, ketiga danau ini juga memiliki cerita mistik tersendiri yang mengusik keingintahuan orang. Menurut penduduk yang tinggal di sekitar kawasannya menganggap Danau Kelimutu sebagai daerah keramat. Masing-masing danau memiliki kisah kejadian tersendiri yang bernuansa misteri. Oleh karena itu ketiganya memiliki nama daerah setempat yang berbeda seuai dengan kisah kejadiannya.

Danau pertama oleh penduduk lokal diberi nama Tiwu Ata Poli yang berarti tempat arwah orang-orang yang memiliki ilmu hitam. Penduduk setempat beranggapan di danau ini bersemayam roh jahat yang dapat merenggut nyawa siapa saja. Bagi orang yang selama hidupnya berbuat jahat, arwahnya ditempatkan di danau ini.

Danau kedua disebut Tiwu Ata Koofai Nuwamuri, tempat terakhir arwah muda-mudi. Konon dulu kala, sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta menceburkan diri karena tidak mendapat restu. Danau ini kerap berwarna biru cerah dan selalu beriak, menggambarkan gejolak kaum muda yang dinamis.

Sedangkan danau ketiga dijuluki Tiwu Ata Mbupu, tempat arwah para orang tua. Danau ini kerap berwarna hitam kehijauan. Permukaan airnya tenang, melambangkan sikap orangtua umumnya.

Pengunjung yang bertandang ke Danau Tiga Warna selain tertarik menikmati pesona keindahan dan keajaiban ketiga danau tersebut, banyak pula yang tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang kisah misteri yang menjadi latar belakang terjadinya ketiga danau tersebut. Menurut mereka dengan mengetahui cerita langsung dari masyarakat setempat, paling tidak dapat menyibak tirai misteri Danau Tiga Warna.

Berdasarkan data dari kantor Sub Balai Konservasi Daya Alam (KSDA) Ende, sejak tahun 1983 hingga 1995, danau Tiwu Ata Poli yang luasanya 560.000 meter persegi dan dalamnya 64 meter sudah mengalami perubahan warna sebanyak 26 kali. Sementara Tiwu Ata Koofai Nuwamuri dengan luasa 180.000 meter persegi dan dalam 127 meter sudah mengalami sepuluh ganti warna. Sedangkan Tiwu Ata Mbupu yang luasnya 228.000 m persegi dan dalamnya 67 m sudah 11 kali berubah warna.

Waktu dan jumlah perubahan warna ketiga danau ini dalam setahun berbeda. Bahkan data terakhir menyebutkan, danau pertama bertahun-tahun berwarna hijau lumut, sejak Desember 1995 kembali berwarna merah. Bagi penghobi fotografi, sulit memotret ketiga danau dengan sempurna, kecuali menggunakan helikopter. Tapi kalau cuma dua atau satu danau saja, bisa diabadikan dari puncak pengamatan.

Gunung Kelimutu memang relatif pendek, namun baru tahun 1951 puncaknya berhasil digapai yakni oleh Le Reux dan Van Suchtelen yang menjadi orang asing pertama yang berhasil mendaki gunung ini. Setelah itu, kawasan ini mulai ramai dikunjungi turis asing yang tertarik oleh ketiga danaunya, tepatnya mulai awal tahun 1970-an.

Untuk menjaga keasrian kawasan dari kerusakan, pada tahun 1984 pemerintah menetapkan kawasan ini menjadi dua fungsi. Pertama untuk Taman Wisata Kelimutu seluas lebih kurang 4.984 hektar dan sisanya untuk cagar alam seluas 16 hektar. Sejak 6 Maret 1992, Danau Tiga Warna dan kawasan hutan sekitarnya dilebur menjadi TN Kelimutu yang berfungsi sebagai kawasan konservasi sekaligus pariwisata.

Kondisi topografi TN Kelimutu bervariasi, mulai dari daerah yang bergelombang ringan sampai berat yakni berupa perbukitan dan pegunungan dengan tingkat kemiringan sangat terjal dan curam, terutama di sekitar dindingdinding danau. Hutannya tidak selebat di Jawa atau Sumatera namun flora dan fauna di TN Kelimutu cukup beragam. Floranya didominasi antara lain cemara gunung, kayu merah, edelweis dan kesi. Sedangkan faunanya antara lain elang, puyuh, burung sesap madu, ayam hutan, dan kera.

Kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara kian meningkat. Kecuali tahun 1992 terjadi penurunan pengunjung karena saat itu Ende dan sekitarnya dilanda gempa hebat. Setelah bencana alam itu, jumlah pengunjung kembali membaik.

Tak sulit menjangkau Danau Tiga Warna. Kalau mempergunakan jalur laut, perjalanan dapat dilakukan dengan kapal Pelni. Lama perjalanan dengan kapal Pelni dari Tanjung Perak Surabaya ke Ende memakan waktu 3 hari 4 malam. Di Ende sebaiknya kita mengurus perizinan di kantor Sub Seksi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) TN Kelimutu, terlebih kalau tujuannya untuk penelitian. Lalu menuju terminal Wolowuna untuk mencarter angkot atu naik truk berwarna kuning terang bertuliskan 'Perdana' yang di dalamnya diberi bangku panjang seadanya. Orang sana menyebutnya oto.

Naik oto dari terminal Wolowuna menuju TN Kelimutu mengasyikkan plus mendebarkan. Bayangkan, penumpangnya campur jadi satu, ada wawi atau anak babi, ayam, semen, penduduk lokal serta beberapa turis asing. Jalan yang dilalui pun menanjak, menurun dan berliku sementara di kiri-kanan jalan menganga jurang terjal.

Meskipun oto tak ber-ac, namun penumpangnya tak berkeringat. Angin sepoi-sepoi nan sejuk bebas keluar masuk di antara rongga papan badan oto. Dari atas oto, pemandangan alam khas Flores yang kering dan gersang jelas terlihat. Bebatuan perbukitan yang coklat sangat kontras dengan langit yang biru. Berbeda dengan pemandangan alam di Sumatera maupun Jawa.

Selama perjalanan, oto melewati perkebunan tuga (jeruk siam), mude (jeruk kuning) dan Jawa (jagung), dan sesekali memasuki kampung dan dusun lengkap dengan sao ria (rumah adatnya), kebo (lumbung padi) dan juga beberapa pasar tradisional yang buka pada hari-hari tertentu. Salah satu kampung yang dilewati oto sebelum sampai Kelimutu adalah Kampung Moni yang banyak terdapat penginapan murah untuk para turis selama berkunjung di kawasan Kelimutu.

Kalau hari masih siang, kita dapat melanjutkan perjalanan ke pos Manukako yang berjarak enam kilometer dari Moni. Pos Manukako yang berarti ayam berkokok merupakan pos pendaftaran merangkap loket masuk menuju kawasan Kelimutu. Letaknya berada di Kampung Ratejena, Desa Bolo Ara dengan kondisi tofografi bergunung dan berlembah. Kampung Ratejena berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (dpl).

Suhu udaranya membuat badan saya menggigil kedinginan, terlebih pada malam dan menjelang pagi hari, suhunya sekitar 4 derajat Celsius. Rumah penduduk di kampung ini beratap seng untuk menahan udara dingin yang menusuk.

Tapi kalau sudah kesorean sebaiknya bermalam di Moni. Keesokan harinya baru menuju Kelimutu. Jarak pos Manukako ke Kelimutu lebih kurang 6 kilometer lagi. Tapi oto hanya sampai di Casuarina Loka, yaitu lapangan parkir berlatar belakang hutan cemara gunung. Di sana serdapat pondok peristirahatan dan toilet umum.

Pemandangan di sekitar Casuarina Loka cukup mempesona, berupa deretan hutan cemara gunung yang berselimut kabut putih. Perjalanan menuju lokasi pemberhentian oto terakhir itu, tak kalah seru dan indah dibanding perjalanan dari Ende ke Moni. Meski jalannya beraspal tapi berkelok-kelok menanjak dan menuruni perbukitan. Hutannya lebih rapat, banyak pohon cemara gunung dan beringin. Suhu udaranya jauh lebih dingin oleh karena itu pengunjung disarankan mengenakan sweater agak tebal.

Turun dari oto lalu menyusuri setapak berbatu sepanjang dua kilometer. Semakin mendekati kawasan danau tiga warna, pepohonan yang tumbuh semakin jarang, hanya beberapa pohon vaccinium yang oleh penduduk setempat di sebut kobaa anako dan edelweiss yang tumbuh di beberapa lokasi secara berkelompok.

Di lapangan alami sebelum undakan menuju puncak pengamatan (inspiration point), dijumpai beberapa penduduk Rantejena yang berjualan penganan berupa jagung, kacang rebus, apel, dan jeruk. Mereka mengenakan baju hitam dan sarung tenun warna hitam dan coklat tua khas setempat.

Karena cuaca di sekitar danau tidak menentu, sebaiknya segera menapaki undakan beton menuju tugu triangulasi yang dari kejauhan terlihat seperti stupa. Dan tempat tertinggi Gunung Kelimutu itulah, kita bisa melihat dengan jelas ketiga Danau Kelimutu yang berbeda warna secara utuh.

PASCAL S BIN SAJU

Perjalanan Tim Lintas Timur-Barat Kompas di Pulau Flores atau Tanjung Bunga tidak akan lengkap jika tidak menyempatkan diri mampir ke ikon pariwisata pulau tersebut, yaitu Danau Kelimutu. Dengan tiga warnanya yang sering berubah, danau tersebut menyimpan misteri tersendiri.

Sebanyak 15 wisatawan domestik dan asing telah berkumpul di tugu pengamatan Gunung Kelimutu (1.690 meter) menunggu terbitnya Matahari ketika tim Lintas Timur-Barat Kompas tiba di sana. Pagi itu waktu menunjukkan pukul 05.40 Wita. Sinar terang mulai tampak di kejauhan bersamaan dengan munculnya Matahari dari balik kaki langit.

Perlahan-lahan sinar Matahari menerangi Gunung Kelimutu dan danau ajaib tiga warna yang terdapat di punggungnya pun terlihat jelas. Di sisi timur, terdapat dua danau, yang airnya masing- masing berwarna hijau dan coklat tua, dan di sisi barat ada satu danau yang airnya juga berwarna coklat tua. Pemandangan indah tersebut memancing decak kagum wisatawan yang berada di tempat itu. Kelelahan setelah mendaki selama lebih kurang 10-15 menit dari pelataran parkir langsung hilang.

Kelimutu yang merupakan gabungan dari kata keli yang berarti gunung dan mutu yang berarti mendidih itu merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang sangat terkenal di Pulau Flores, selain Komodo, kampung tradisional Bena, dan taman laut Riung yang indah.

Danau ajaib itu ditemukan oleh Van Suchtelen, pegawai Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915. Dan, mulai mendunia setelah Romo Bouman menerbitkan artikel mengenai Danau Kelimutu.

Danau vulkanik itu dianggap ajaib atau misterius karena warna ketiga danau tersebut berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.

Awalnya Danau Kelimutu dikenal memiliki tiga warna, yakni merah, putih, dan biru.

Sekitar 15 tahun lalu, ketika untuk kedua kalinya mengunjungi Kelimutu, Kompas menyaksikan tiga danau itu dalam tiga warna. Dua danau di timur tugu berwarna merah dan hijau muda, sedangkan satunya berwarna coklat tua. Dan, medio Oktober ini dua dari tiga danau itu berwarna coklat, lainnya hijau.

Danau (tiwu) warna hijau tersebut dahulunya berwarna biru atau orang setempat menyebut tiwu koĆ¢€™o fai nuwa muri (muda- mudi), danau berwarna coklat berubah dari merah atau tiwu ata polo (orang jahat) dan putih atau tiwu ata bupu (orang tua).

Warna air Danau Kelimutu adalah misteri alam. Danau itu hanya ada di Moni, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, dan belum pernah ditemukan yang seperti ini di tempat lain di mana pun di dunia.

Pagi hari adalah waktu yang terbaik untuk menyaksikan Danau Kelimutu. Menjelang tengah hari, apalagi sore hari, biasanya danau diselimuti kabut yang menghalangi pandangan. Itu sebabnya para wisatawan biasanya bermalam di Moni, Desa Koanara, di kaki Gunung Kelimutu, dan baru berangkat ke Gunung Kelimutu dini hari.

Kera di Kelimutu Sudah 'Mengungsi'
Laporan Wartawan Pos Kupang, Romualdus Pius

TRIBUNNEWS.COM, ENDE--Kera-kera yang selama ini 'menyapa' setiap pengunjung Danau Kelimutu, dalam dua minggu terakhir sudah 'mengungsi' dari danau itu. Kini, tidak terlihat lagi satu ekor pun kera di sekitar area kawasan Gunung Kelimutu, padahal setiap kali warga atau pengunjung yang ke Gunung Kelimutu biasanya 'disapa' dengan lincah puluhan ekor kera mulai dari pintu masuk hingga dekat permukaan kawah Danau Kelimutu.

Kepala Pos Pemantau Gunung Berapi Kelimutu, Gabriel Rago, yang ditemui Pos Kupang di Puncak Gunung Kelimutu, Minggu (9/6/2013), mengatakan, kera mulai menghilang dari Danau Kelimutu menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Kelimutu sejak 30 Mei 2013.

Saat itu, lanjut Gabriel, puluhan kera yang biasanya berkeliaran di sekitar kawasan, kini menghilang, tidak ada lagi kera di kawasan gunung tersebut. Menurut dia, menghilanganya kera dari Gunung Kelimutu karena bau belerang yang keluar dari kawah gunung semakin menyengat. Kera-kera tersebut tidak kuat menahan bau belerang sehingga untuk sementara 'mengungsi' ke daerah lain yang dianggap lebih nyaman bagi eksistensi kawanan mereka.

"Kera-kera di gunung itu mungkin akan kembali lagi apabila daerah kawah Gunung Kelimutu sudah cukup aman bagi mereka. Apabila sudah tidak ada bau belerang, kemungkinan kera baru kembali di sekitar kawah Gunung Kelimutu," kata Gabriel.

Pantuan Pos Kupang, selain kera yang menghilang dari Danau Kelimutu, juga tanaman perdu, terutama rumput, banyak yang telah mati akibat meningkatnya aktivitas Gunung Kelimutu dari normal menjadi waspada. *

Danau tiga warna Kelimutu di Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur punya cerita tersendiri.

Berubah-ubahnya warna danau itu memberikan kesan ekologis dan mistik. Sesungguhnya danau ini layak juga dipromosikan bersama Komodo untuk merebut predikat Tujuh Keajaiban Dunia.

Tapi, siapakah yang harus merintisnya? Ini hanyalah sebuah opini sekaligus unrun rembuk untuk mulai memikirkannya. (erny)


sebelumnya 
Facebook CommentsShowHide

0 komentar

TERIMA KAIH TELAH BERKOMENTAR

Diberdayakan oleh Blogger.