IKlan

legenda ikan pesut sungai mahakam

Legenda Pesut Mahakam
Pada jaman dahulu kala di rantau Mahakam, terdapat sebuah dusun yang didiami oleh beberapa keluarga. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah sebagai petani maupun nelayan. Setiap tahun setelah musim panen, penduduk dusun tersebut biasanya mengadakan pesta adat yang di isi dengan beranekaragam pertunjukkan ketangkasan dan kesenian.

Ditengah masyarakat yang tinggal di dusun tersebut, terdapat suatu keluarga yang hidup rukun dan damai dalam sebuah pondok yang sederhana. Mereka terdiri dari sepasang suami-istri dan dua orang anaknya putra dan putri. Kebutuhan mereka tidak terlalu sukar untuk di penuhi karena meraka mempunyai kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Begitu pula dengan segala macam masalah bisa diatasi dengan cara yang bijaksana, sehingga mereka hidup dengan bahagia selama bertahun-tahun.

Pada suatu ketika sang ibu terserang suatu penyakit. Walau telah diobati oleh beberapa orang tabib , namun sakit sang ibu tak kunjung sembuh pula hingga akhirnya ia meninggal dunia. Sepeninggal sang ibu, kehidupan keluarga ini mulai tak terurus lagi. Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi pendiam dan pemurung, sedangkan kedua anaknya diliputi rasa bingung, tak tahu meski apa yang dilakukan.

Keadaan rumah dan kebun kini sudah tak terawat lagi. Beberapa sesepuh desa telah mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan, namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya. Keadaan ini berlangsung cukup lama. Suatu hari di dusun tersebut kembali di adakan pesta adat panen. Berbagai pertunjukkan dan hiburan kembali di gelar. Dalam suatu pertunjukkan ketangkasan, terdapatlah seorang gadis yang cantik dan mempesona sehingga selalu mendapat sambutan pemuda-pemuda dusun bila ia bereaksi, mendengar berita yang demikian itu, tergugah juga sang ayah untuk turut mrnyaksikan bagaimana kehebatan pertunjukkan yang begitu di puji-puji penduduk dusun hingga banyak pemuda yang tergila-gila dibuatnya.

Malam itu adalah malam ketujuh dari acara keramaian yang dilangsungkan. Perlahan-lahan sang ayah berjalan mendekati tempat pertunjukkan dimana gadis itu akan bermain. Sengaja ia berdiri di depan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah sang gadis. Akhirnya pertunjukkan pun dimulai, berbeda dengan penonton lainnya, sang ayah tidak banyak tertawa geli atau memuji-muji penampilan sang gadis. Walau demikian sekali-kali ada juga sang ayah tersenyum kecil. Sang gadis melemparkan senyum manisnya kepada para penonton yang memujinnya maupun yang menggodanya. Suatu saat, akhirnya bertemu jua pandangan antara si gadis dan sang ayah. Kejadian itu berulang beberapa kali, dan tidaklah diperkenankan sama sekali kiranya bahwa terjalin rasa cinta antara sang gadis dengan sang ayah dari dua orang anak tersebut.

Demikianlah keadaanya, atas persetujuan kedua belah pihak dan restu dari para sesepuh maka dilangsungkanlah pernikahan anatara mereka setelah pesta adat didusun tersebut usai. Dan berakhir pulalah kemurungan keluarga tersebut, kini mulailah mereka menyusun hidup baru. Mereka mulai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dahulunya mereka tidak usahakan lagi. Sang ayah kembali rajin berladang dengan dibantu kedua anaknya , sementara sang ibu tiri tinggal di rumah menyiapkan makanan bagi mereka sekeluarga. Begitulah seterusnya sampai berbulan-bulan lamanya hingga kehidupan mereka cerah kembali.

Dengan keadaan yang demikian, tidaklah diduga sama sekali ternyata sang ibu tiri tersebut lama-kelamaan memiliki sifat yang kurang baik terjadap kedua anak tirinya. Kedua anaknya baru diberi makan setelah ada sisa dari ayahnya. Sang ayah hanya dapat memaklumi perbuatan istrinya itu, tak dapat berbuat apa-apa karena dia sangat mencintainya. Akhirnya seluruh rumah tangga diatur dan berada di tangan istri muda yang serakah tersebut. Kedua anak tirinya disuruh bekerja keras setiap hari tanpa mengenal lelah dan bahkan disuruh mengerjakan hal-hal yang diluar kemampuan mereka.
Pada suatu ketika, sang ibu tiri telah membuat rencana jahat. Ia menyuruh kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan .

“kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi!” perintah sang ibu. “jumlahnya harus tiga kali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan kalian pulang sebelum kayunya banyak dikumpulkan. Mengerti?!
“Tapi bu…” jawab anak laki-lakinya, “untuk apa kayu bakar sebanyak itu….? Kayu yang ada saja masih cukup banyak, nanti kalau sudah hampir habis baru kami mencarinya lagi…”
“apa kalian sudah berani membantah ya!? Nanti ku laporkan ke ayah mu bahwa kalian pemalas! Ayo berangkat sekarang juga !!” kata si ibu tiri dengan malasnya.
Anak tiri yang perempuan kemudian menarik tangan kakaknya untuk segera pergi. Ia tau bawa ayahnya telah di pengaruhi oleh sang ibu tiri, jadi sia-sia untuk membantah karena tetap akan dipermasalahkan jua. Setelah membawa beberapa perlengkapan, berangkatlah mereka menuju hutan. Hingga senja menjelang, kayu yang dikumpulkan belum mencukupi seperti yang diminta ibu tiri mereka. Terpaksalah mereka harus bermalam di hutan dalam sebuah bekas pondok seseorang agar dapat meneruskan pekerjaan mereka esok harinya. Baru tengah malam barulah mereka dapat terlelap walau rasa lapar masih membelit perut mereka.

Esok paginya, mereka pun mulai mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Menjelang tengah hari, rasa lapar pun tak tertahankan lagi, akhirnya mereka tergletak di tanah selama beberapa saat. Dan tanpa mereka ketahui, seseorang kakek tua datang menghampiri mereka. “apa yang kalian lakukan, anak-anak?!” Tanya kakek itu kepada mereka. Kedua anak yang malang itu langsung menceritakan semua, termasuk tingkah ibu tiri mereka dan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga rasanya tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan. “kalau begitu … pergilah kalian kearah sana .” kata si kakek sambil menunjukkan kearah rimbunan belukar, “disitu terdapat banyak pohon buah-buahan. Makanlah sepuasnya sampai kenyang. Tapi ingat, janganlah di cari esok harinya karena akan sia-sia saja. Pergilah sekarang juga!”

Sambil ngucapkan terima kasih, kedua kakak beradik itu kemudian bergeges ke tempat yang di maksud. Ternyata benar apa yanag dikatakan oleh kakek tadi, di sana terdapat beraneka macam pohon buah-buahan. Buah durian, nangka, cempedak, wanyi, mangga, dan pepaya yang telah masak Nampak berserakan di tanah. Buah-buahan lainnya seperti pisang, rambutan, dan kelapa gading masih Nampak bergantung di pohonnya. Mereka kemudian makan buah-buahan hingga kenyang dan badan terasa segar kembali. Setelah istirahat beberapa saat , mereka dapat kembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu hingga sesuai dengan apa yang di minta ibu tiri.

Menjelang sore, sedikit demi sedikit kayu yang jumlahnya banyak itu berhasil diangsur semuanya ke rumah. Mereka kemudian menyusun kayu-kayu tersebut tanpa memperhatikan keadaan rumah. Setelah tuntas, barulah mereka naik untuk melapor kepada sang ibu tiri, namun alangkah terkejutnya ketika isi rumah yang telah kosong melompong. Ternyata ayah dan ibu tiri mereka telah pergi meninggalkan rumah itu. Seluruh harta benda di dalam rumah tersebut telah habis dibawa serta, ini berarti mere pergi dan tak akan kembali kerumah itu. Kedua kakak beradik itu kemudian menangis sejadi-jadinya. Mendengar tangisan keduanya, berdatanganlah tetangga sekitarnya untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa ayah dan ibu tiri anak-anak tersebut telah pindah secara diam-diam.

Esok harinya, kedua anak tersebut bersikeras untuk mencari orang tuanya. Mereka memberitahukan rencana tersebut ke tetangga terdekat. Beberapa tetangga yang iba kemudian menukar kayu bakar dengan bekal bahan makanan bagi perjalanan kedua anak itu. Menjelang tengah hari, berangkatlah mereka untuk mencari ayah dan ibu tiri mereka. Telah dua hari mereka berjalan tetapi orang tua mereka belum juga dijumpai, sementara perbekalan makanan sudah habis. Pada hari ketiga, sampailah mereka di suatu daerah yang berbukit dan tampaklah oleh mereka asap api mengepul di kejauhan. Mereka segera menuju ke arah tempat itu, sekedar bertanya kepada penghuninnya barangkali mengetahui atau melihat kedua orang tua mereka.

Mereka akhirnya menjumpai sebuah pondok yang sudah reot. Tampak seorang kakek tua yang sedang duduk-duduk di depan pondok tersebut. Kedua kakak beradik itu lalu member hormat kepada kakek tua dan member salam.
“dari mana kalian ini? Apa maksud kalian hingga datang ke tempat saya yang jauh terpencil ini?” Tanya sang kakek sambil sesekali terbatuk-batuk kecil.
“maaf tok.” Kata si anak laki-laki. “kami ini sedang mencari urangtuha kami. Apakah datok pernah melihat seorang laki-laki setengah baya dan seorang perempuan yang masih muda lewat di sini?”
Sang kakek terdiam sebentar sambil mengernyitkan keningnya, tampaknya iya sedang berusaha keras untuk mengingat-ingat sesuatu. “hhhmmm. Beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami istri yang datang kesini.” Kata si kakek kemudian, mereka banyak sekali membawa barang. Apakah kalian itu yang mereka cari?”
“Tak salah lagi, tok.” Kata anak laki-laki dengan gembira. “mereka pasti urangtuha kami! Ke arah mana mereka pergi tok?”
“waktu itu mereka meminjam perahu ku untuk menyeberangi sungai, mereka bilang mereka ingin menetap di seberang sana dan hendak membuat sebuah pondok dan berkebun baru. Cobalah kalian cari di seberang sana.”
“terima kasih, tok..” kata si anak sulung tersebut. “tapi.. bisakah datok mengantarkan kami ke seberang sungai?”

“datok ni dah tuha. Mana kuat lagi untuk mendayung perahu !” kata si kakek sambil terkekeh. “kalau kalian ingin menyusuk mereka, pakai sajalah perahuku yang ada di tepi sungai itu.”
Kakak beradik itu pun memberanikan diri untuk membawa perahu si kakek. Mereka berjanji akan mengembalikan perahu tersebut jika telah berhasil menemukan kedua orang tua mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka menaiki perahu dan mendayung menuju keseberang. Keduannya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa gembira setelah mengetahui keberadaan orang tua mereka. Akhirnya mereka sampai di seberang dan menambatkan perahu tersebut dalam sebuah anak sungai. Setelah dua hari lamanya berjalan dengan perut kosong, barulah mereka menemui ujung sebuah dusun yang jarang sekali penduduknya.

Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang yang kelihatannya bari di bangun. Perlahan-lahan mereka mendekati pondok itu. Dengan perasaan cemas dan ragu si kakak menaiki tangga dan memanggil-manggil penghuninnya, sementara si adik berjalan mengitari pondok hingga ia menemukan jemuran pakaian yang ada di belakang pondok. Ia teringat pada baju ayahnyayang pernah di jahitnya karena sobek terkait duri, setelah didekatinnya maka yakinlah bahwa baju itu adalah baju ayahnnya. Segera ia berlari menghampiri kakaknya sambil menunjukkan baju sang ayah yang di temukannya di belakang. Tanpa piker panjang lagi mereka pun memasuki pondok dan ternyata pondok tersebut memang berisi barang-barang milik ayah mereka.

Rupanya orang tua mereka terburu-buru pergi, sehingga di dapur masih ada periuk yang di letakkan di atas api yang masih menyala. Di dalam periuk itu terdapat nasi yang sudah menjadi bubur. Karena lapar si kakak langsung melahap nasi bubur yang masih panas itu dengan sepuas-puasnya. Adiknya yang barumasuk ke dapur terkejut melihat apa yang sedang di lakukan kakaknya, segera iya menyambar periuk yang isinya tinggal sedikit itu.

Karena takut tidak kebagian, ia langsung melahap nasi bubur tersebut sekaligus dengan periuknya. Karena bubur yang dimakan masih panas maka suhu badan mereka pun menjadi naik tak terhingga. Dalam keadaan tak karuan demikian, keduanya berlari kesana kemari hendak mencari sungai. Setiap pohon pisang yang mereka temui di kanan-kiri jalan menuju sungai, secara bergantian mereka peluk hingga batang pisang tersebut menjadi layu. Begitu mereka tiba di tepi sungai, segeralah meraka mereka terjun kedalamnya. Hampir bersamaan dengan itu, penghuni pondok yang mmang benar adalah kedua orang tuanya anak yang malang itu terheran-heran melihat pohon pisang di sekitar pondok menjadi layu dan hangus.

Namun mereka sangat terkejut ketika masuk kedalam pondok dan menjumpai sebuah bungkusan dan dua buah Mandau kepunyaan kedua anaknya. Sang istri trus memeriksa isi pondok hingga kedapur, dan ia tidak menemukan lagi periuk yang ditanggalkannya. Ia kemudian melapor hal itu kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari pondok dan mengikuti jalan menuju sungaiyang di kanan-kirinya banyak terdapat pohon pisang yang telah layu dan hangus.
Sesampainnya ditepi sungai, terlihatlah oleh mereka dua makhluk yang bergerak ke sana kemari di dalam air sambil menyemburkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami teringat pada rentetan kejadian yang mungkin sekali ada hubungannya dengan keluargaya.

Ia terperanjat karena tiba-tiba istrinya sudah tidak ada di sampingnnya. Rupannya ia menghilang secara gaib. Kini sadarlah sang suami bahwa istrinya bukanlah keturunan manusia biasa. Semenjak perkawinan mereka, sang istri memang tidak mau menceritakan asal usulnya. Tak lama berselang, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untuk menyaksikan keanehan yang baru saja terjadi. Dua ekor ikan yang kepalanya mirip sekali dengan kepala manusia yang sedang bergerak kesana kemari di tengah sungai sambil sekali-kali muncul di permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya. Masyarakat yang ada di tempat itu memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya. Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan pasut atau ikan pesut, sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi.


Pesan yang ditampilkan oleh mitos Pesut Sungai Mahakam

Mitos Pesut Sungai Mahakam secara jelas menyiratkan beberapa pesan moral. Pesan moral yang terkandung di dalamnya diharapkan diikuti oleh orang-orang Mahakam. Beberapa pesan moral yang terkandung dalam mitos Pesut Sungai Mahakam adalah:

Jangan pernah menelantarkan anak sendiri. Kalau menelantarkan anak sendiri seperti yang terjadi pada mitos Pesut Sungai Mahakam, maka anaknya akan berubah menjadi pesut. Meskipun tergila-gila pada orang lain, semua orangtua harus menjaga dan mengurus anak-anak mereka sendiri.
Harus mengenal asal-usul dan latar belakang pasangan hidup kita. Jangan sampai seperti sang Ayah dalam cerita mitos Pesut Sungai Mahakam yang langsung menikahi seorang wanita padahal baru melihat. Wanita tersebut ternyata jahat dan bukanlah seorang manusia. Sang ayah pun terpengaruh wanita gaib itu untuk menelantarkan anaknya. Oleh karena itu, pintar-pintarlah mencari jodoh agar dapat diterima oleh orang-orang yang kita sayangi.
Komentar

Mitos Pesut Sungai Mahakam berkembang turun menurun sejak ratusan tahun yang lalu. Mitos ini sangat unik karena hanya ada di daerah sungai Mahakam di mana terdapat populasi pesut yang langka. Bentuk tubuhnya yang sangat khas, berbeda dari ikan, dan menyerupai manusia membuat orang-orang di sekitar sungai Mahakam bertanya-tanya “bagaimana bisa ada ikan yang seperti itu di sini?”

Masyarakat sungai Mahakam kemudian mengembangkan sebuah cerita yang menghubungkan pesut dengan pesan moral kepada para orangtua untuk menjaga dan tidak menelantarkan anak-anak. Hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan orang-orang sekitar sungai Mahakam zaman dulu yang sering lupa memberi makan anak-anaknya karena sibuk bekerja di sepanjang sungai Mahakam. Cerita ini kemudian berkembang menjadi mitos.

Terdapat hal-hal gaib dalam mitos Pesut Sungai Mahakam ini. Adanya hal-hal gaib dalam cerita mungkin disebabkan agar orang yang mendengar cerita ini menjadi percaya dan takut untuk melanggar pesan moral yang terdapat dalam cerita. Hal-hal gaib yang ada dalam mitos diharapkan membuat orang takut untuk melanggarnya karena hal-hal gaib tersebut berada di luar kemampuan dan kekuasaan mereka.

Secara keseluruhan, mitos ini baik dan sangat berguna untuk menyebarkan pesan moral yang terkandung dalam cerita. Cerita asal-muasal pesut di sungai Mahakam ini penting untuk menjaga moral dan tradisi yang berkembang di sekitar sungai Mahakam. Mitos ini sangat khas karena hanya ada di sungai Mahakam dan tidak ada di tempat lain. Sehingga pesan moral yang hendak disampaikan terasa begitu membumi dan familiar bagi masyarakat sungai Mahakam.

Nasib Pesut Mahakam Akan Seperti Harimau Tasmania?
Samarinda (ANTARA News-Kaltim) - Punahnya Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) yang diperkirakan pernah hidup pada sungai-sungai besar Kalimantan tampaknya mirip dengan musnahnya harimau Tasmania (Thylacine cynophalus) di Pulau Tasmania.

Harimau Tasmania hilang dari dataran Australia terkait erat dengan kian berkembangnya kawasan itu oleh kehadiran imigran yang menempati benua paling selatan itu.

Para ahli memperkirakan bahwa sekitar 3.300 tahun silam, karnivora berkantong (marsupial) mulai hidup di daratan Australia dan Papua Nugini.

Pada sekitar 2.200 tahun lalu, harimau yang tubuhnya mirip anjing itu kemudian hilang dari kedua daratan tersebut kecuali ditemukan di Kepulauan Van Diemen alias Tasmania.

Para imigran yang sebagian jadi petani itu pada 1800-an mulai memburu binatang tersebut karena dianggap hama bagi ternak peliharaan mereka.

Harimau itu dalam tujuh dekade hilang dari peredaran. Harimau Tasmania terakhir dikabarkan terbunuh pada 1936 sehingga sejak tahun itu orang tidak pernah lagi melihat satwa unik tersebut.

Kesamaannya, Pesut Mahakam punah dari sungai-sungai besar di Kalimantan --kecuali di Sungai Mahakam-- akibat kian padat pemukiman di sepanjang sungai.

Misalnya, bagi warga di Bulungan sekitar 1970-an masih sering melihat kerumunan satwa ini -- istilah warga setempat disebut "Ikan Lumut" (Pesut Mahakam)--- yang menyemburkan air dari belakang kepalanya di tengah Sungai Kayan ketika pemukiman warga tidak begitu padat.

Pada era yang sama, warga Samarinda masih sering melihat kawanan satwa pemalu itu di tengah Sungai Mahakam, khususnya pada pagi hari atau menjelang magrib.

Warga Samarinda yang akan mengambil air wudhu sebelum menunaikan sholat Magrib di Masjid Tua (kini disebut Masjid Raya Darussalam) yang berada di Tepian Mahakam (kini Jalan Gajah Mada) sering melihat tiga atau lima ekor Pesut Mahakam bercanda ria sambil menyemburkan air dari puggungnya di tengah sungai.

Satwa langka itu secara umum berenang dalam formasi ganjil, tiga atau lima ekor. Kala itu, air Sungai Mahakam sangat jernih karena tidak ada pencemaran serta pembabatan hutan di kawasan pedalaman.

Puluhan tahun kemudian, Sungai Mahakam pada kawasan Samarinda telah menjadi kanal raksasa buangan limbah dari puluhan perusahaan kayu, industri lem, serta perusahaan batu bara di sepanjang Tepian Mahakam sehingga air yang tadinya jernih berubah menjadi coklat kehitaman.

Sungai Mahakam yang tadinya hening menjadi sangat bising dengan kehadiran mesin-mesin yang menggunakan pembakar bensin dan solar serta mencemari air dengan pelumas oli.

Satwa yang pemalu itu akhirnya kian ke kawasan pedalaman Mahakam --kini masuk wilayah Kutai Kartanegara -- untuk mencari kehidupan lebih tenang pada kawasan pedalaman Mahakam.

Banjir yang berkali-kali melanda kawasan pedalaman Mahakam, termasuk pekan ini (pertengahan April 2010) membuktikan telah terjadi penurunan kualitas lingkungan yang berpengaruh besar bagi kehidupan Pesut Mahakam.

Padahal dulunya menjadi musibah dengan siklus lima sampai 10 tahunan namun kini terjadi berkali-kali pada setiap tahun, seperti terjadi pekan ini, padahal selama 2009, tercatat tiga kali banjir besar melanda kawasan pedalaman yang membuktikan tingkat pendangkalan sungai dan erosi sangat tinggi, yakni sebagai dampak dari pembabatan hutan dan penggudulan lahan di kawasan pedalaman.

Satwa ini menjadi sangat terancam karena berbagai tekanan pada habitatnya. Contohnya, kondisi Sungai Mahakam yang lalu-lintas sungainya kian padat, kemudian tingkat pencemaran yang tinggi serta bahan makanan yang kian tipis.

Manusia dengan karunia terbesar dari Tuhan, yakni akal-pikiran kadang-kadang dimanfaatkan untuk melakukan tindakan yang merusak alam, antara lain menangkap ikan dengan racun agar bisa memberikan hasil besar sesaat namun berdampak luas bagi kelestarian berbagai makhluk di sungai termasuk Pesut Mahakam.

Berdasarkan kajian para ahli membuktikan bahwa ada anggapan keliru yang menyatakan tiga danau besar di kawasan pedalaman Kaltim sebagai habiat Pesut Mahakam.

Hal itu dengan alasan bahwa tiga danau besar di Kaltim itu, yakni Danau Malintang (11.000 Ha), Danau Semayang (13.000 Ha) dan Danau Jempang (15.000 Ha) terlalu dangkal bagi kehidupan Pesut Mahakam.

Bahkan, saat kemarau akan menjadi delta-delta sehingga sebenarnya lebih tepat disebut sebagai rawa-rawa. Sementara itu, Pesut Mahakam yang dewasa bisa mencapai berat satu sampai 1,5 kuintal hanya bisa hidup pada kawasan yang memiliki kedalaman air antara 9-12 meter.

Prilakunya yang rakus dalam mengkonsumsi makanan, udang dan ikan tidak mungkin tersedia di rawa-rawa tersebut.

Daniella Kreb, seorang peneliti dari Belanda memperkirakan bahwa populasi mamalia yang menyerupai lumba-lumba yang hidup di air tawar di pedalaman Mahakam itu berjumlah 50 ekor. Asumsi itu berdasarkan pola kemunculannya.

Kreb menemukan bahwa Kawasan perairan di Sungai Kedang Pahu adalah zona yang paling disukai Pesut Mahakam dengan karena kedalaman air yang sesuai, lalu-lintas sungai tidak begitu ramai, tingkat pencemaran rendah serta masih tersedia pasokan makanan.

Pesut Lain


Cukup mengejutkan, belum lama ini, ada dua penemuan yang membuktikan bahwa Pesut Mahakam ternyata tidak hanya berada di Sungai Mahakam, Sungai Irawady dan Sungai Mekong namun juga ada di Pesisir Balikpapan dan Sungai Sesayap (Kaltim).

Tentu penemuan itu sangat berarti bagi upaya pelestarian Pesut Mahakam karena selama ini anggapan umum menyatakan hanya terdapat pada tiga belahan dunia, yakni Sungai Mahakam, Sungai Irawady dan Sungai Mekong.

Tim survei dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Kalimantan Timur beberapa tahun lalu juga menemukan habitat pesut di Sungai Sesayap, Kabupaten Tanah Tidung untuk pertama kalinya.

Kepala Balai TNKM, IGNN Sutedja yang memimpin survei menyatakan timnya berhasil merekam tujuh ekor pesut dalam bentuk foto maupun video pada 10-12 Januari 2008.

Pihaknya saat melakukan survei pendahulu pada Agustus 2007 melihat kemunculan sekitar 11 ekor Pesut Mahakam.

Rekaman pertama dibuat pukul 10.11 Wita saat survei di bagian hulu, ketika anggota tim melihat kemunculan Pesut Mahakam muda muncul ke permukaan sungai dan melakukan dua kali loncatan kecil sehingga hanya bagian punggung dan sirip atas yang berhasil terekam. Sementara enam ekor lainnya terekam di bagian hilir sekitar pukul 16.10 Wita.

Keberadaan pesut di Sungai Sesayap sebenarnya telah lama diketahui penduduk lokal sejak lama. Mereka menyebutnya dengan nama "Lamud" yang berarti lumba-lumba dalam bahasa Suku Tidung.

Bahkan, masyarakat Tidung sudah mengenal pesut sebagai legenda. Menurut cerita H Mustofa, tokoh masyarakat Tidung di Kecamatan Sesayap, Lamud adalah manusia yang menjadi "ikan" (sebenarnya bukan jenis ikan namun mamalia).

Mitos atau legenda tentang Pesut Mahakam berasal dari anak manusia yang dititahkan raja untuk mencari cincin emas kesayangan yang jatuh ke dasar sungai menjadi penyelamat Lumud selama ratusan tahun silam.

Sebelum di Sungai Sesayap, Pesut juga ternyata ditemukan beberapa peneliti satwa langka di Pesisir Balikpapan.

Penemuan ini jelas cukup mengejutkan karena selama ini diketahui bahwa satwa ini hidup pada ekosistem air tawar (sungai) bukan air payau/laut (Yayasan Konservasi RASI, 2005).

Para peneliti yakin bahwa yang mereka temukan bukan lumba-lumba namun Pesut Mahakam. Cirinya, Pesut Mahakam bermoncong (berhidung) pendek, sedangkan lumba-lumba berbentuk botol atau panjang.

Sama seperti masyarakat di sekitar Sungai Sesayap, maka warga sekitar Sungai Mahakam juga percaya bahwa Pesut berasal dari manusia dan tidak boleh ditangkap, apalagi dimakan dagingnya.

Namun, mitos atau legenda itu kini tidak mampu mengatasi berbagai ancaman bagi mamalia air tawar itu karena sesungguhnya mereka menghadapi persaingan keras dengan rakusnya manusia dalam mengekploitasi potensi sumber daya alam ini.

Pesut Mahakam kini dianggap sebagai satwa yang paling terancam punah. IUCN (2002) telah memberikan status "Critically Endangared" (kritis terancam punah) pada jenis ini, sementara CITES telah menempatkannya pada "Appendix 1" yang berarti jenis ini tidak diperkenankan untuk diperdagangkan.

Kenyataannya, Pesut Mahakam tetap dibisniskan, yakni terus diburu di Sungai Mahakam untuk memenuhi permintaan Pengelola Taman Hiburan Ancol, sehingga lebih gampang melihat Pesut Mahakam di Jakarta ketimbang di habitat aslinya baik di Sungai Mahakam, Sungai Malinau maupun Pesisir Balikpapan.

Bahkan, ironisme mencolok terjadi di depan mata, sebagian daerah di Kaltim (Pemprov Kaltim, Pemkot Samarinda dan Pemkab Kutai Kartanegara) seperti berlomba-lomba membangun tugu atau patung -pesut dengan dana ratusan juta sampai miliaran rupiah namun program nyata untuk melestarikan satwa ini, membuktikan hal itu, dalam beberapa tahun anggaran tidak ada alokasi dana untuk program penyelamatan Pesut Mahakam.

sebelumnya 
Facebook CommentsShowHide

0 komentar

TERIMA KAIH TELAH BERKOMENTAR

Diberdayakan oleh Blogger.