IKlan

cerita pendek lucu islami

Seri Kisah Al-Quran: Kekuatan Fisik dan Kesucian Hati Menjadikan Thalut Pemimpin Bani Israil
Seorang pemuda sedang bekerja keras di ladang bersama ayahnya. Ia adalah seorang pemuda berbadan kuat dan berhati suci. Karena begitu seriusnya ia tidak tahu bahwa hewan-hewan peliharaannya telah menjauh dari ladangnya. Sesaat kemudian ia berdiri dan mengusap keringat di atas dahinya. Ia melihat sekitar dan baru memahami kalau hewan-hewan peliharaannya sudah tidak ada lagi. Bersama salah satu pekerjanya ia pergi mencari hewan-hewannya. Kemanapun mereka berdua mencari tetap saja tidak menemukannya. Ketika mereka berdua ingin kembali ke ladang, pekerjanya berkata, "Di sini adalah tempat kelahiran Nabi Samuel as. Berhubung sudah terlanjur sampai di sini, mari kita datangi beliau dan meminta bimbingannya.
Thalut menerima ajakan pekerjanya dan berdua menuju rumah Nabi Samuel as. Dalam kondisi lelah dan haus mereka berdua sampai di lereng sebuah gunung. Terdengar suara masyarakat mengatakan, "Hai Samuel! Angkatlah seorang raja untuk kami agar kami bisa membantunya berperang di jalan Allah!"

Seorang laki-laki yang cahaya wajahnya menunjukkan bahwa ia sebagai seorang utusan Allah, menjawab, "Kalian kaum Bani Israil adalah orang-orang yang lemah. Aku yakin bila kalian diutus untuk berperang, kalian akan melimpahkannya kepada orang lain. Meski demikian saya tetap akan menunggu perintah dari Allah terkait kalian."

Thalut dan pekerjanya semakin mendekat. Melihat mereka berdua, Nabi Samuel langsung memutus pembicaraannya. Orang-orang sedikit mundur ke belakang. Nabi Samuel berkata, "Dia telah datang! Dialah orang yang kalian tunggu-tunggu untuk mengatur urusan kalian. Dia adalah Thalut!"
Thalut yang masih muda merasa takjub dan bertanya, "Anda mengenal saya? Saya hanya seorang petani miskin. Saya datang ke sini untuk meminta bimbingan Anda agar bisa menemukan hewan-hewan peliharaan saya!"

Samuel berkata, "Jangan khawatir! Hewan-hewanmu sekarang juga sedang menuju ladang ayahmu. Jangan terikat pada mereka! Sekarang perhatikan urusan yang lebih besar yang dikehendaki oleh Allah! Allah pencipta semesta alam telah menetapkan kamu sebagai pemimpin Bani Israil."

Bani Israil terheran-heran menyaksikan peristiwa aneh ini. Satu sama lainnya saling memandang. Dengan wajah cemberut berkata, "Bagaimana mungkin ia bisa menjadi raja kita? Kitalah yang lebih layak untuk menjadi raja bagi dia. Ia tidak memiliki harta kekayaan!"

Samuel berkata, "Allah telah memilihnya untuk kalian dan menambah pengetahuan dan kemampuannya. Allah akan memberikan kerajaan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui.

Bani Israil berkata, "Bila Allah telah menghendaki, kami akan menerimanya dengan syarat anda menunjukkan tanda-tandanya!"
Samuel berkata, "Allah mengetahui penentangan kalian. Oleh karena itu, Dia menunjukkan tanda-tandanya. Lihatlah tabut warisan keluarga Musa dan Harun yang selama ini hilang sehingga menyebabkan kelemahan dan kemalangan, saat ini juga akan kembali lagi kepada kalian. Tabut yang dibawa oleh para malaikat ini akan menjadi bahan pelajaran bagi kalian, bila memang kalian beriman."

Dengan semangat masyarakat bangkit dan menengok ke sana ke mari. Tabut itu merupakan nikmat ilahi yang diberikan kepada mereka. Nikmat ini telah memberikan keberkahan kepada Bani Israil. Akan tetapi ketika mereka telah menyimpang dari syariat, akhlak dan perilaku mereka condong kepada keburukan, tabut ini menghilang. Akhirnya persatuan dan kesatuan Bani Israil menjadi bercerai-berai.

Bani Israil akhirnya berbaiat kepada Thalut dan menerima kepemimpinannya karena melihat tabut tersebut.
Sejak awal kepemimpinannya, Thalut telah mengerahkan segala kebijakan dan pemikirannya. Ia menghadap kepada Bani Israil dan berkata, "Barang siapa yang mau mendaftar menjadi pasukan, pikirannya harus kosong. Yang ingin bergabung dengan pasukan kami bukan orang-orang yang berencana membangun sebuah gedung, berencana menikah atau berdagang."

Para pasukan bersiap sedia. Dengan rapih mereka berada di hadapan Thalut. Sambil berpikir, Thalut melihat wajah-wajah pasukannya. Pandangan sebagian mereka menampakkan keragu-raguan. Untuk menguji mereka Thalut berkata, "Dalam perjalanan kita akan sampai pada sebuah sungai. Barang siapa yang bersabar dan menaatiku, ia tidak minum air itu atau hanya minum segenggam air saja!"
Namun ketika pasukan Thalut sampai di tempat itu, mereka betul-betul dalam kondisi kehausan dan meminum air laut sebanyak-banyaknya kecuali beberapa orang saja yang tidak meminumnya

Thalut berkata, "Sekarang, pasukanku hanyalah orang-orang yang sabar dan mukmin."
Kemudian ia membaginya menjadi dua kelompok dan pergi menuju medan pertempuran.
Musuh memiliki banyak persenjataan dan perlengkapan. Pemimpin dan komandan mereka bernama Jalut.

Pasukan penakut yang ada di dalam barisan Thalut merasa ketakutan saat melihat Jalut.

Mereka berkata, "Hari ini kita tidak sanggup menghadapi Jalut dan pasukannya."

Di tengah-tengah barisan pasukan Thalut ada seorang remaja pemberani maju dan kepada Thalut ia berkata, "Aku diutus oleh ayahku untuk melaporkan kepada beliau berita tentang dua saudaraku di medan peperangan. Namun sekarang aku ingin berperang melawan Jalut."

Pada mulanya Thalut tidak begitu mempedulikannya. Pemuda pemberani itu bernama Daud. Ia lebih bersemangat di banding sebelumnya seraya berkata, "Perawakan kecil dan kelemahanku jangan sampai membuat Anda salah. Kemarin saya telah membunuh seekor beruang dan sebelumnya saya telah bertempur melawan seekor harimau.

Thalut memuji kemauan dan semangat Daud dan mengizikannya untuk berperang. Namun ketika Jalut tertawa saat melihat remaja ini berada di hadapannya dan berkata, "Sudah bosankah kamu dari jiwamu? Apakah tongkatmu ini sebagai senjatamu?"
Saat itu ucapan Jalut belum selesai. Daud meletakkan batu di dalam umban dan melemparnya ke arah Jalut. Seketika itu juga kepala Jalut terluka. Saat itu Jalut belum tersadar, Daud sudah melemparkan batu berikutnya berkali-kali sehingga Jalut terjatuh.

Allah telah menetapkan Daud sebagai raja dan memberinya hikmah sepeninggal Thalut. Allah telah memberikan apa saja yang dikehendaki-Nya dan mengangkatnya sebagai salah satu nabi-Nya.

Kisah ini ada dalam surat Baqarah ayat 246 sampai 251. Dia akhir kisah ini Allah berfirman, "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam." (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

Seri Kisah Al-Quran: Pertanyaan Nabi Ibrahim as yang Mampu Menghidupkan Fitrah Manusia
 Al-Quran merupakan sebuah kitab yang memberikan kehidupan dan pencerahan. Ia menjelaskan tentang pelajaran sejarah. Ia menggambarkan penyimpangan-penyimpangan manusia dengan cara lain daripada yang lain, indah dan menarik. Ia mengajak manusia untuk berpikir dengan mengajukan argumen-argumen yang kokoh dan logis. Di antaranya adalah kisah-kisah tentang tauhid dan argumen-argumen yang diajukan oleh Nabi Ibrahim as.


Mari kita simak kisah ini:

- Cepat Ibrahim! Hari raya telah tiba. Kita semua harus pergi ke padang sahara untuk merayakan pesta besar-besaran!\
- Ibrahim berkata, "Tapi aku sakit. Aku tidak bisa pergi bersama kalian."

- Ibrahim! Apa katamu? Ini adalah hari raya yang paling besar. Tidak ada seorang pun yang tinggal di kota.



- Aku minta maaf! Aku akan tinggal di sini.



- Baiklah! Tapi kau sedang menjauhkan dirimu dari kegembiraan.



Ketika Ibrahim sudah yakin bahwa semua masyarakat telah pergi ke luar kota, pelan-pelan ia pergi ke tempat penyembahan berhala. Sebuah tempat yang luas dan penuh dengan berhala-berhala kecil maupun besar. Di samping berhala-berhala itu ada beragam makanan.



Ibrahim menghadap berhala. Sambil tersenyum mengejek, ia berkata, "Mengapa kamu tidak makan? Mengapa kamu tidak berbicara?



Dengan suara pelan Ibrahim berkata, "Bagaimana mungkin batu-batu hasil pahatan manusia akan berbicara?"



Ibrahim sesak dada menyaksikan kejahilan dan kebodohan masyarakat di zamannya. Ia membanting berhala, kemudian mengambil kampak dan menghancurkan berhala-berhala itu. Selanjutnya meletakkan kampak di atas pundak berhala yang paling besar, setelah itu ia keluar dari tempat itu.



Penduduk kota dengan gembira kembali dari acara perayaan dan langsung menuju tempat penyembahan berhala untuk memuja berhala-berhalanya. Tidak lama setelah itu terdengar suara riuh:

- Musibah besar telah menimpa kita! Berhala-berhala telah hancur!

- Siapa yang melakukan penghinaan itu terhadap tuhan-tuhan kita? Ia pasti pezalim.
\
Ada suara muncul di antara kerumunan masyarakat:

- Ini adalah kerjaan Ibrahim. Ia meremehkan dan menghina tuhan-tuhan kita. Ia selalu berkata, "Benda mati tidak layak untuk dipuja dan disembah." Hari ini hanya Ibrahim yang tinggal di kota.

Orang-orang dengan perasaan marah mencari Ibrahim dan menangkap Ibrahim.

Salah seorang dari mereka berkata, "Engkaukah yang melakukan penghinaan ini terhadap tuhan-tuhan kita?"

Ibrahim berkata, "Jangan-jangan berhala besar yang menghancurkan berhala-berhala kecil! Tanyakan padanya!"

Mereka heran dan terdiam. Mereka merujuk kepada nalurinya masing-masing dan kepada dirinya sendiri berkata, "Pasti kita sendiri yang pezalim." Kemudian mereka menunduk. Lantas berkata, "Ibrahim! Kamu sendiri tahu bahwa berhala-berhala ini tidak berbicara!"

Ibrahim berkata, "Tidakkah seharusnya kalian menyembah Tuhan Yang Esa daripada menyembah benda-benda yang yang tidak memberikan manfaat maupun mudharat sama sekali kepada kalian. Celakalah kalian dan yang kalian sembah! Mengapa kalian tidak berpikir?!"

Namrud raja Babil berjalan ke sana ke mari sambil marah dan mengumpat. Ia berkata, "Siapakah Ibrahim itu? Berani-beraninya ia menyebut Tuhan Yang Esa! Sekarang juga tangkap dia dan bawa ke sini?"

Ketika Ibrahim berada di hadapan Namrud. Namrud berkata kepadanya, "Kerusuhan apa yang kau lakukan ini? Siapakah Tuhan Yang Esa itu? Apakah kau mengenal tuhan lain selain aku?"

Ibrahim berkata, "Tuhanku adalah yang menghidupkan dan mematikan. Hanya tuhanku saja yang memberikan nyawa dan mengambilnya."

Dengan suara keras, Namrud tertawa. Sambil marah ia berkata, "Ini bukan sesuatu yang penting. Aku juga menghidupkan dan mematikan."

Kemudian Namrud memerintahkan untuk membawa dua tahanan ke hadapannya. Seketika itu juga ia memerintahkan membunuh yang satu dan membebaskan yang lainnya. Kemudian menghadap ke Ibrahim dan berkata, "Hai Ibrahim. Ini adalah sebuah pekerjaan yang mudah!"


Ibrahim berkata, "Namun Tuhanku adalah pencipta yang mampu. Dengan kehendak-Nya matahari terbit dari timur. Sekarang kau terbitkan matahari itu dari barat!"


Namrud takjub dan kalah di hadapan argumentasi Ibrahim. Oleh karena itulah ia mengeluarkan Ibrahim dari istananya.

Setelah itu Ibrahim dan keluarganya meninggalkan kota Babil. Di pertengahan jalan ia menemukan sebuah kaum yang menyembah bintang-bintang.


Muallaf Krakow Berbagi Kisah : Menjaga Kesucian Cinta

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Tadinya brother Hasan adalah aktivis Gereja yang sangat sibuk, sejak usia sekolah hingga lulus universitas, dia memang amat aktif di berbagai kegiatan. Suatu hari, ia jatuh cinta, waduh, ia gambarkan suasana hati yang amat fantastis, setiap hari terbayang-bayang ‘si wanita yang dicintai ini’.

Perempuan cantik bermata biru yang biasa dilihatnya melalui jendela apartmen, ternyata adalah seorang mahasiswi di universitas lain, beberapa menit perjalanan bus kota dari rumahnya. Mungkin si cewek punya teman yang rumahnya berdekatan dengan brother Hasan.

Hasan bukan orang yang agresif, dia hanya memendam rasa cinta tersebut. Ia memang selalu terbayang-bayang wajah si cewek di kala momen apa pun juga, ibarat lagu dangdut Indonesia, “Mau makan, teringat dia…Mau tidur, teringat dia…”, pokoknya capeeek deh, masa’ sih ingat dia melulu, bisa mengganggu konsentrasi dalam aktivitas lainnya. Namun Hasan tidak menjadi ‘gelap mata’, ia perlahan mencari tahu tentang si cewek, yah dipikirnya, “Siapa tahu memang jodoh…”, kira-kira begitu.

Suatu hari, Hasan kaget, si cewek memakai kain di kepala, (seperti kerudung) padahal kain itu adalah syal panjang. Melalui teman dari cewek itu, Hasan jadi tahu bahwa cewek bermata biru itu sudah menjadi Muslimah. Lantas Hasan menggunakan ‘ilmu dari Paman Google’, ia cari segala hal tentang Muslimah, apakah Muslimah itu? Bagaimanakah kehidupan Muslimah? Kenapa Muslimah berpakaian seperti itu? Dan lain-lain. Dengan cara ‘keluyuran’ di media-media Internet pula, Hasan menemukan berbagai informasi tentang Islam. Ia amat tertarik akan agama ini.

Tak disangka, di suatu sore, awan berarak sore tiba berteman angin kencang, di sudut apartmen tua, Hasan melihat sosok orang berwajah asing (bukan pria lokal, ia menyebutnya seperti wajah dari Jazirah Arab) sedang berpelukan dan bersikap mesra dengan si cewek ‘inceran’ Hasan tersebut. Bagaikan ada petir menyambar hatinya, jantungnya terasa akan copot, oalah, sedihnya brother Hasan. “Selamat sore…”, ia mencoba menyapa kedua insan yang sedang mesra itu. Si cewek dan pria itu membalas, “Selamat sore…”, sambil tersenyum. Selanjutnya Hasan melangkah gontai ke arah apartmennya. Mencoba menyembunyikan nuraninya yang sedang ‘hancur’ bagaikan gempa bumi.

Segera Hasan menemui tetangganya yang merupakan teman si cewek. Ia hanya ‘pura-pura’ ingin tahu, “Siapakah pria yang menemani temanmu itu? Rasanya saya pernah melihatnya…”, tanya Hasan. Jawaban tetangganya makin membuatnya hampir pingsan, “Ooooh… itu Suaminya, teman saya itu sekarang berSuami…” Begitulah, peristiwa ‘jatuh hati’ alias cinta bersemi kepada cewek pujaannya, ternyata langsung menjadi tragedi buat hati Hasan.

Tapi, eitss, jangan terburu-buru bilang ‘tragedi’, Hasan sekarang sudah tahu, bahwa cewek pujaan bermata biru itu masuk Islam karena ingin dinikahi oleh si teman Arabnya, pernikahan itu adalah jenis ‘kawin kontrak’. Hasan mengetahui hal itu setelah kebingungan melanda, tatkala ia melihat beberapa kali, koq si cewek gonta-ganti Suami? Padahal di dalam Islam, tak ada ‘kamusnya’ cewek punya Suami banyak, begitu pikir Hasan. Luluh… Hasan berbalik malah ingin tahu banyak tentang Islam, bersungguh-sungguh untuk menjadi Muslim, ia luluh pada cinta yang sesungguhnya, yaitu pada Sang Pencipta. Ia yakin bahwa Allah SWT sudah melindunginya dari jalan ‘cinta’ yang keliru.

Dengan mudahnya Allah ta’ala ‘menjaga hati’ sesiapa yang dikehendaki-Nya. Brother Hasan tak lagi mencintai si mata biru itu, ia bersyukur bahwa ia masih waras, dan tak tergoda si mata biru lebih jauh. Si cewek ternyata membiayai kuliahnya sendiri dengan cara dinikahi secara kontrak oleh orang-orang Syi’ah, kadang hanya nikah dua minggu, dua bulan, atahu bisa saja sampai setahun, tergantung keperluan ‘Suaminya’. Si cewek tak tahu apa-apa selain ‘diajak bersyahadat’, maka jadilah ia Muslim, padahal rukun-rukun Islam tak dijalankan, Naudzubillahi minzaliik.

Hasan bilang, “Saya malah jauh lebih mencintai Islam. Alhamdulillah telah ada jalan yang indah bagaimana saya bisa menemukan cahaya Islam…” Subhanalloh, brother Hasan sangat mantap berbicara demikian.

Suatu hari, di kala sholat Jum’at, brothers lain melihat Hasan beranting-anting, namun brothers lain merasa segan menegurnya. Di jum’at selanjutnya, Hasan masih menggunakan anting-anting, maka ada seorang brother yang biasa ‘blak-blakan’, bilang, “Kamu baru menjadi Muslim, yah Brother?”

“Iya, saya mencinta Allah, Saya mencintai rasul-Nya. Saya Muslim, baru saja beberapa bulan lalu…”, kata Hasan.

Brother kita lainnya bilang, “Muslim laki-laki tidak boleh beranting-anting, menindik telinga, memakai emas, it’s Haram, Brother…” Selanjutnya ada yang menerangkan padanya tentang hal tersebut, menggunakan bahasa Poland.

Brother Hasan kaget, “Oh ya…?! Waduh saya baru tahu…Ya Allah, I’m sorry…”, katanya. Secara langsung detik itu juga, ia lepas anting-antingnya, ia lepas kalung emasnya, dan ia ulang kata-kata, “I am sorry, Allah… saya benar-benar baru tahu…” Sami’na wa atho’na, bisiknya. 

Facebook CommentsShowHide

0 komentar

TERIMA KAIH TELAH BERKOMENTAR

Diberdayakan oleh Blogger.